TRADISI KURE: HARMONI AGAMA DAN BUDAYA DI KAMPUNG KOTE
Artikel: Venansius Fransiskus Kembo
(Mahasiswa Universitas San Pedro Kupang)
WARTANET NKRI.COM – Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, masyarakat Kampung Kote di Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, tetap memegang teguh sebuah tradisi sakral bernama Kure. Tradisi yang hanya dijumpai di wilayah kecil ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang mampu menyatukan iman Katolik dengan adat leluhur secara harmonis.
Jejak Sejarah Sejak Abad ke-17
Tradisi Kure diyakini telah hidup sejak abad ke-17, ketika para misionaris Katolik, terutama dari Ordo Dominikan dan Fransiskan, mulai membawa ajaran Katolik ke wilayah Timor melalui Noemuti. Sejak saat itu, umat setempat mengolah nilai-nilai keagamaan tersebut dalam bingkai budaya mereka, melahirkan tradisi Kure sebagai bentuk pemeliharaan rohani.
Istilah Kure sendiri berasal dari kata Latin cure yang berarti care atau pemeliharaan rohani. Dalam konteks lokal, makna ini berkembang menjadi “berdoa sambil mengunjungi keluarga” yang kemudian diwujudkan dalam prosesi berkeliling rumah adat.
Kampung Kote, yang dikenal sebagai salah satu “kampung tua” di Noemuti, menjadi pusat pelaksanaan ritual ini. Dalam katalog Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, Kure tercatat sebagai tradisi yang dilaksanakan selama lima hari, mulai Rabu hingga Senin setelah Minggu Paskah.
Tahapan Ritual: Dari Pengosongan Diri hingga Penutupan Sef Manu
Pelaksanaan Kure dimulai pada hari Rabu sebelum Tri Hari Suci. Hari itu disebut Trebluman atau Boe Nekaf, yakni momen pengosongan diri. Umat berkumpul, memadamkan lampu, berdoa, membunyikan lonceng, dan menepuk dinding rumah sebagai simbol pengusiran roh jahat.
Pada Kamis Putih, masyarakat melakukan pembersihan benda-benda suci seperti patung, salib, dan alat devosi lainnya. Siang harinya, mereka mengambil air berkat dari Sungai Soet Oe untuk membasuh seluruh anggota keluarga sebagai lambang penyucian.
Puncak ritual berlangsung pada malam Kamis Putih hingga Jumat Agung. Pada tahap ini, doa dilakukan secara bergilir dari satu Ume Mnasi atau Ume Uis Neno (rumah adat) ke rumah adat lainnya. Kampung Kote yang memiliki puluhan rumah adat dikunjungi satu per satu oleh umat dengan penuh kekhidmatan.
Sabtu Kudus atau Sabtu Aleluya menjadi momen sukacita. Setelah Misa bersama, masyarakat melaksanakan tarian massal Bonet tanpa iringan musik—hanya senandung dan syair yang dilantunkan sambil bergandengan tangan. Tarian ini kerap berlangsung hingga dini hari sebagai ungkapan syukur atas Kebangkitan Kristus.
Pada Minggu Paskah pertama dan Senin Paskah kedua, digelar perayaan penutup yang dikenal sebagai Prosesi Ritual Sef Manu. Dalam prosesi ini, berbagai hiasan, buah-buahan, air, dan minyak dilepaskan ke sungai sebagai simbol pelepasan dosa dan tekad untuk menjalani hidup baru.
Simbolisme Adat yang Kuat
Tradisi Kure sarat dengan simbol budaya. Buah-buahan, tebu, jeruk, sagu—yang disimbolkan sebagai senjata perang—menandakan transformasi dari konflik menuju perdamaian ketika ajaran Katolik mulai diterima masyarakat di masa lampau.
Larangan menggunakan kendaraan dan bunyi-bunyian selama Jumat Agung hingga Sabtu pagi menunjukkan penghormatan mendalam terhadap suasana tobat dan hening. Sementara tarian Bonet tanpa musik mencerminkan kesederhanaan dan kuatnya nilai kebersamaan warga Kote.
Makna dan Fungsi: Iman Menguat, Identitas Terjaga
Tradisi Kure memainkan tiga fungsi utama:
- Fungsi keagamaan: menjadi sarana memperdalam iman umat Katolik menjelang Tri Hari Suci, sekaligus mengenang sejarah misi Katolik di Noemuti.
- Fungsi komunal: memperkuat relasi antar rumpun suku, antar rumah adat, serta membangun solidaritas komunitas.
- Fungsi edukatif: menjadi wahana pewarisan nilai adat dan identitas budaya kepada generasi muda.
Keunikan dan Pengakuan Warisan Budaya
Keunikan Kure terletak pada perpaduan harmonis antara liturgi Katolik dan ritual adat. Tradisi ini hanya ditemukan di satu kampung, membuatnya eksklusif sekaligus menarik bagi peziarah lokal maupun luar daerah. Pada tahun 2024, ratusan peziarah dari berbagai wilayah datang untuk menyaksikan prosesi Kure.
Pengakuan pemerintah menjadikan Kure sebagai Warisan Budaya Tak Benda menjadi bukti pentingnya pelestarian tradisi ini.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Meski tetap hidup hingga kini, Kure menghadapi berbagai tantangan, mulai dari modernisasi hingga potensi komersialisasi. Pengunjung yang datang pun diwajibkan menghormati adat, seperti melepas alas kaki, mengenakan kain tenun, dan menjaga ketenangan selama prosesi.
Generasi muda juga ditantang untuk tetap mempertahankan tradisi tanpa kehilangan makna aslinya. Hal ini menuntut upaya pelestarian yang seimbang antara ketaatan pada adat dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman.
Hingga hari ini, masyarakat Kampung Kote terus melestarikan Tradisi Kure sebagai wujud kesetiaan pada nilai adat dan iman Katolik. Di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi ini berdiri sebagai bukti bahwa agama dan budaya dapat berpadu indah, saling menguatkan, dan memberi identitas yang kokoh bagi sebuah komunitas. (Dari berbagai sumber)

