MERAWAT TRADISI TOKE TUTUNG DI KAMPUNG LEWURLA, DESA WAE RASAN, KECAMATAN ELAR SELATAN, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Oleh: Florianus Baso (Generasi Muda Wae Rasan/Guru di SMA Negeri 2 Elar)

Tradisi Toke Tutung telah hidup ribuan tahun dan kini tetap berlangsung setiap tahun di Kampung Lewurla, Desa Wae Rasan, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur. Pelaksanaan Toke Tutung  tiap tahunnya selalu diawali dengan rapat atau musyawarah bersama di Rumah Dor (tempat tinggal pemegang hak atas ritus adat, natar sen uma wean_kampung dan ulayat). Dalam musyawarah dihasilkan sejumlah kesepakatan yaitu bulan dan tanggal pelaksanaan serta fasilitas Toke Tutung. Berdasarkan runding bersama inilah, Toke Tutung  dilaksanakan di Kampung Lewurla.

Letak Geografis Kampung Lewurla dan Tapal Batas

Secara geografis, Kampung Lewurla berada di Desa Wae Rasan (wilayah desa pemekaran dari Desa Sangan Kalo), Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur. Kampung Lewurla merupakan kampung yang wilayah kampungnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngada atau terletak di perbatasan antara Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada. Karena berada di perbatasan, warga Kampung Lewurla, Desa Wae Rasan lebih dekatnya ke Bajawa, pusat kota Kabupaten Ngada, untuk penjualan hasil komoditi perdagangan dan pertanian, demikian pula untuk perbelanjaan kebutuhan pokok.

Sekadar untuk diingat kembali, Kampung Lewurla di Desa Wae Rasan sempat cukup lama berada dalam kemelut tapal batas antara Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada sejak tahun 2010. Akibatnya, dalam kurun waktu 10 tahun, akses jalan dan transportasi umum terhenti total dan baru di tahun 2020, dengan melewati sejumlah diskusi yang intens, pemerintah kedua kabupaten yang dimediasi oleh pemerintah propinsi pada masa kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef  Adreanus Nae Soi selaku Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur dihasilkan kesepakatan normalisasi tapal batas antara Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada.

Normalisasi tapal batas antara Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada telah membawa dampak positif bagi masyarakat Kampung Lewurla, Desa Wae Rasan. Pemerintah pusat melalui pemerintah propinsi dan pemerintah daerah memberikan dukungan infrastruktur jalan dan listrik. Ruas jalan propinsi yang layak mulai diperhatikan dan dimulai dari tapal batas antara kedua kabupaten sejak tahun 2020 dan pada tahun 2022, listrik mulai dinikmati di wilayah perbatasan.

Toke Tutung Sebagai Tradisi Sakral di Kampung Lewurla

Nuansa utama Toke Tutung adalah penyatuan diri dengan Tuhan, leluhur, sesama dan alam semesta yang dibingkai dalam sejumlah ritus seperti Bari Manuk, Danding, Nareng, Ghole Toke dan Melas.  Pertama, Bari Manuk yaitu kegiatan doa bersama, pada pagi hari atau sore hari, dari rumah ke rumah yang berisi doa syukur dan harapan dari masing-masing keluarga dan berpuncak di Rumah Dor. Kedua, Danding yaitu tari berkeliling/lingkaran antara kelompok pria dan wanita dewasa di Nambe Natar (altar/mesbah budaya) yang disertai nyanyian kuno, saling bersahut-sahutan antara pria dan wanita dewasa yang dilakukan pada malam hari hingga pagi hari, setelah Ritus Bari Manuk  selesai.

Ketiga, Nareng  yaitu doa khusuk kepada Tuhan dan leluhur yang dipanjatkan secara bersama di Nambe Natar oleh Dor, para tetua adat dan laki-laki dewasa. Ritus ini dilakukan biasanya pada pagi hari setelah Danding berakhir. Keempat, Ghole Toke yaitu memasak nasi dan sayur dalam ruas bambu muda, yang dilakukan pagi-pagi buta, aromanya  khas dan enak. Kelima, Melas_Caci dalam sebutan umum di Manggarai Raya yaitu unjuk keberanian para pria dewasa dari berbagai kampung yang telah berpakaian melas  dan para peserta  melas  saling bergantian memukul yang bergerak dari kemah atau panggung masing-masing dalam halaman kampung.

Tradisi Toke Tutung Merawat Harmoni Kehidupan

Ada sejumlah warisan luhur yang menjadi rangkuman dari tradisi Toke Tutung. Pertama, melepaskan tahun sebelumnya dan menyambut tahun baru. Pelaksanaan Toke Tutung  menjadi perjumpaan mesra penuh reflektif antara tahun lama dan tahun baru dalam kalenderium adat di Kampung Lewurla. Dor, para tetua adat dan setiap rumah tangga berdoa dan mengucap syukur atas segala rejeki pada tahun sebelumnya dan memohon berkat pada tahun yang baru berupa hasil panen yang melimpah, kesehatan, perlindungan Tuhan dan leluhur atas Natar Wae_kampung halaman dan dijauhkan dari malapetaka yang merugikan seiisi kampung.

Kedua, mempererat hubungan kekeluargaan. Toke Tutung  sarat aroma kekeluargaan dengan adanya penti perek (saling berbagi/barter) antara anak wina (status saudari kandung, sepupu atau karena hubungan kawin mawin) berupa ayam dan anak rana (orang tua kandung, saudara kandung, sepupu atau karena hubungan kawin mawin) berupa beras. Ketiga, menata masa depan. Tradisi Toke Tutung membuka kesempatan untuk menata kembali arah dan tujuan hidup dari masing-masing keluarga terutama dalam merespon setiap peluang dan tantangan dalam menjamin kelangsungan hidup keluarga dan kampung halaman di tahun yang baru.

Toke Tutung  dan Promosi Wisata Budaya

Tradisi Toke Tutung yang dilaksanakan setiap tahun di Kampung Lewurla bisa menjadi momen yang tampan dalam promosi kebudayaan di Kampung Lewurla. Konon Kampung Lewurla dipandang sebelah mata oleh kampung-kampung tetangga pada masa lalu di Kecamatan Elar sebelum adanya pemekaran kecamatan. Tidak ada yang menarik dan mengagumkan dari Kampung Lewurla. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, dengan tetap menjaga dan merawat budaya leluhur, perubahan demi perubahan telah menghantar Kampung Lewurla berada pada posisi yang strategis dan mengagumkan dengan adanya Desa Wae Rasan (desa dari satu kampung saja), gerbang masuk dan keluar antar kabupaten, yang didukung pula oleh infrastruktur jalan yang layak dan listrik.

Jika tradisi Toke Tutung dikemas dengan baik yang melibatkan berbagai stakeholder (Pemangku Adat, Akademisi, Pemerintah dan Kementerian Kebudayaan) dalam setiap tahunnya, maka ini juga akan membawa kepada perjumpaan yang menakjubkan dengan beberapa situs kuno yang ada di Desa Wae Rasan seperti Situs Kebo Ular, Padi Ajaib, Tawu Mas, Mata Air Perempuan  dan Naga Raksasa. Mungkin peninggalan kuno seperti yang disebutkan di atas telah menjadi magnet untuk menghantar perubahan demi perubahan di Kampung Lewurla.

Tradisi Toke Tutung telah mengalami adaptasi yang hati-hati dalam menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang termanifestasi dalam setiap ritus dari Toke Tutung  itu sendiri. Toke Tutung mewariskan nilai-nilai seperti penyerahan diri kepada Tuhan dan leluhur, kebersamaan, koreksi (evaluasi) persaudaraan, saling berbagi, penyatuan dengan alam, gotong royong, disiplin dan kerja keras. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam mengarungi tahun adat yang baru, dengan segala peluang dan tantangannya. Dengan demikian, merawat tradisi Toke Tutung sama artinya merawat atau menjaga kelangsungan kehidupan itu sendiri. (WNN/Aldo)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *