Umat Paroki Santu Fransiskus dari Asisi Kolhua Gelar Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI

WARTANET NKRI.COM – KUPANG — Umat Paroki Gereja Katolik Santu Fransiskus dari Asisi, BTN Kolhua, menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman gereja, Senin, 17 Agustus 2026.

Upacara tersebut diikuti perwakilan berbagai Kelompok Umat Basis (KUB) yang berada di wilayah Paroki Santu Fransiskus dari Asisi, para suster, serta sejumlah tokoh gereja antara lain, Ketua DPP Paroki Adrianus Ceme, Penasehat DPP Paroki, Anton Bele. Yulius Ola bertindak sebagai komandan upacara, sementara Pembina Upacara adalah Pastor Paroki, Romo Dus Bone.

Rangkaian upacara berlangsung secara khidmat, diawali dengan persiapan barisan, pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Proklamasi, Pancasila, Pembukaan UUD 1945, amanat Pembina Upacara, doa, hingga penutupan.

Dalam amanatnya, Romo Dus Bone mengajak seluruh umat untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, semangat kemerdekaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara, tetapi juga melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah buah dari perjuangan para pahlawan. Karena itu, tugas kita bukan hanya mengenang jasa mereka, tetapi juga melanjutkan perjuangan tersebut dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.”

Romo Dus juga menekankan pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Menurut dia, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama agar kehidupan masyarakat berlangsung aman, damai, adil, dan sejahtera.

“Kita boleh berbeda agama, berbeda latar belakang, dan berbeda cara pandang. Namun, kita adalah satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Toleransi bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi cara kita hidup bersama.”

Ia juga mengingatkan umat agar semangat membangun bangsa harus disertai komitmen untuk menolak praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

“Mari kita membangun Indonesia dengan kejujuran. Jangan membiasakan diri mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Bangsa ini membutuhkan generasi yang berani berkata benar, bertindak adil, dan bertanggung jawab.”

Selain berbicara mengenai nasionalisme, Romo Dus Bone mengajak umat untuk menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Flores yang sedang mengalami musibah gempa bumi. Ia meminta seluruh umat untuk mendoakan para korban sekaligus memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Romo Dus Bone (Pastor Paroki Gereja Katolik Santu Frnasiskus dari Asisi-BTN Kolhua)

“Di tengah sukacita memperingati kemerdekaan, jangan sampai kita melupakan saudara-saudara kita yang sedang mengalami penderitaan. Mari kita doakan mereka dan, sesuai kemampuan kita, memberikan bantuan. Sekecil apa pun bantuan itu, jika diberikan dengan kasih, akan sangat berarti bagi mereka.”

Suasana upacara semakin khidmat ketika seluruh peserta menyanyikan lagu “Ku Lihat Ibu Pertiwi” setelah rangkaian upacara selesai. Lagu tersebut dinyanyikan sebagai bentuk keprihatinan dan doa bagi masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi. Momen tersebut bahkan membuat sejumlah peserta meneteskan air mata.

Kekhidmatan upacara juga didukung lantunan lagu-lagu yang dibawakan secara syahdu oleh paduan suara Fox Paterna di bawah pimpinan Marthinus Tokan.

Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Adrianus Ceme, mengatakan pelaksanaan upacara setiap tahun merupakan bentuk penghormatan umat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan.

“Kami umat paroki ini selalu melakukan upacara setiap tahun sebagai rasa hormat dan cinta terhadap NKRI, menghormati perjuangan para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan, sekaligus mempererat hubungan hidup antarumat untuk mengamalkan Pancasila dalam hidup menggereja,” ujar Adrianus Ceme.

Sementara itu, Penasehat DPP Antonius Bele menilai nilai-nilai perjuangan para pahlawan, Pancasila, serta nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 sejalan dengan ajaran tentang kebaikan dan kebenaran.

“Nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang gugur, nilai-nilai Pancasila, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan ajaran kebaikan dan kebenaran. Karena itu, menjadi kewajiban seluruh masyarakat dari berbagai kelompok lintas agama untuk melakukan upacara 17 Agustus sebagai bentuk pengamalan cinta kasih terhadap negara dan bangsa Indonesia,” kata Antonius Bele.

Pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Paroki Santu Fransiskus dari Asisi Kolhua pun tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat rasa cinta tanah air, menghidupkan nilai Pancasila, merawat toleransi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama yang sedang menghadapi bencana. (FransiskusK/WNN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *