FESTIVAL KOLHUA SUKSES DIGELAR 15 AGUSTUS 2026
“Ribuan Warga Nikmati Karnaval dan Pentas Seni, Budaya Nusantara Tampil dalam Satu Panggung”
WARTANET NKRI.COM – KUPANG — Festival Budaya Kolhua 2026 sukses digelar di Kelurahan Kolhua, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Mengusung tema “Merajut Keberagaman dalam Harmoni Budaya Nusantara”, kegiatan tersebut mempertemukan beragam etnis, agama, komunitas, generasi muda, serta pelaku seni dalam satu perayaan kebudayaan.
Rangkaian kegiatan diawali Karnaval Budaya Nusantara yang melibatkan warga dari 13 RW se-Kelurahan Kolhua. Para peserta mengenakan beragam kain tenun dari berbagai etnis di Indonesia, sekaligus menampilkan identitas budaya masing-masing. Pelepasan peserta karnaval Budaya dilakukan oleh Camat Maulafa,Imanuel Aprianus Eliaser, SH. didampingi Lurah Kolhua, Yanti Benu.
Karnaval dimulai dari halaman GMIT Imanuel Kolhua dan berakhir di kawasan Lapangan Gereja Katolik Santo Fransiskus dari Asisi, Perumahan BTN Kolhua. Selain masyarakat dari 13 RW, kegiatan juga melibatkan komunitas budaya, komunitas gereja, komunitas masjid, komunitas Hindu dan Buddha, mahasiswa KKN dari sejumlah perguruan tinggi, serta kelompok seni lainnya.
Camat Kecamatan Maulafa, Imanuel Aprianus Eliaser, SH., bersama Lurah Kelurahan Kolhua, Yanti Marista Benu, S.Th., didampingi suaminya, Yoseph Agustinus Dery Sogen bersama Sekretaris Kelurahan Kolhua, Mesak Natun, SE, dan Staf Kelurahan, terlihat setia berjalan bersama -sama dengan masyarakat, melakukan Pawai Karnaval Budaya tersebut.
Festival kemudian dilanjutkan dengan malam puncak pementasan seni budaya yang berlangsung sekitar pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Panitia mencatat sekitar 1.000 warga hadir menyaksikan rangkaian pertunjukan dari awal hingga acara berakhir. Kegiatan pertunjukan berlangsung lancar dan aman. Terlihat Aparat Polsek Maufa bersama seksi keamanan panitia bersiaga dan mengamankan lalulintas jalan raya depan lokasi malam pertunjukan itu.

DIBUKA PEMERINTAH KOTA KUPANG
Malam puncak Festival Budaya Kolhua dibuka secara resmi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, S.H., mewakili Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo.
Kedatangan Lega dan rombongan terlebih dahulu disambut melalui Natoni/Basan, tuturan adat masyarakat Helong Kolhua yang dibawakan para tua adat. Setelah itu, rombongan Asisten II didampingi Camat Maulafa,Imanuel Aprianus Eliaser, SH. Kapolsek Maulafa, AKP Marthen Luter Peterson Riwu, S.H. dan Lurah Kolhua, Yanti Marista Benu, didampingi suaminya, Yoseph Agustinus Dery Sogen bersama Sekretaris Kelurahan Kolhua, Mesak Natun,SE, bersama Staf Kelurahan, dan Ketua Panitia, Marthinus Paskalis Yong, diantar menuju tempat yang telah disiapkan dengan iringan Tari Gong Penyambutan Tamu dari etnis Helong Kolhua.
Dalam sambutannya, Lega mengajak masyarakat Kolhua terus mendukung program pembangunan Pemerintah Kota Kupang.

Ia menegaskan, pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam pembangunan masyarakat.
“Membangun kota dengan kekuatan nilai-nilai budaya sangat diperlukan, namun perlunya keterlibatan aktif para pemangku adat yang ada dalam wilayah Kota Kupang.”
Lega juga mendorong para tua adat Helong dan seluruh etnis yang hidup di Kolhua untuk terus menjaga identitas budaya masing-masing sekaligus memperkuat toleransi.
Ia meminta masyarakat mempertahankan budaya Helong dan membangun kerja sama dengan etnis-etnis lain yang ada di Kolhua.
“Tetap mempertahankan budaya mereka dan bersama dengan etnis-etnis lain yang ada dalam Kolhua, memperkuat toleransi dan bergandengan tangan membangun Kolhua menuju hidup sejahtera dan makmur demi kemajuan pembangunan di Kota Kupang.”
Menurut Lega, Festival Budaya Kolhua juga merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Kupang memelihara, merawat dan melestarikan nilai budaya peninggalan leluhur.
Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan Tambur Helong dan disambut tepuk tangan meriah sekitar 1.000 warga yang hadir.

PANITIA: FESTIVAL DIBANGUN AWAL DARI SWADAYA MASYARAKAT
Ketua Panitia Festival Budaya Kolhua, Martinus Paskalis Yong, dalam laporannya mengungkapkan bahwa penyelenggaraan festival membutuhkan proses panjang.
Menurut Paskalis, panitia terlebih dahulu melakukan pendekatan dengan pihak kelurahan, membentuk kepanitiaan, kemudian menggalang dukungan dan dana awal secara mandiri.
Salah satu upaya pembiayaan dilakukan melalui penjualan kupon berhadiah sepeda listrik. Panitia juga memperoleh dukungan dari sejumlah sponsor, antara lain Tri Indosat, Universitas Terbuka,Iconnet Internet,FIF,Rumah Makan Sari Pitaka Kolhua, Alfamart, Indomart, dan Sampoerna.
“Berbagai kendala ada, namun saya bersama anggota panitia lainnya tetap teguh berjuang hingga bisa melakukan Festival tersebut,” demikian inti laporan Paskalis mengenai proses penyelenggaraan festival.
Sebelum malam puncak, panitia juga menggelar kegiatan pendukung berupa pertandingan bola voli dan futsal tingkat Kelurahan Kolhua.
Hal tersebut menunjukkan bahwa festival tidak hanya dibangun melalui satu malam pertunjukan, tetapi melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

NATONI BUKA PANGGUNG BUDAYA
Salah satu pertunjukan utama dalam Festival Budaya Kolhua adalah Natoni/Basan oleh para tua adat Helong Kolhua.
Tuturan adat tersebut berisi pujian kepada Tuhan Sang Pencipta serta penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan tradisi Natoni. Tradisi tersebut juga ditempatkan sebagai panduan masyarakat dalam menjalani kehidupan dari masa ke masa.
Menariknya, Natoni tidak hanya dibawakan para tua adat. Anak-anak SD GMIT Kolhua juga tampil membawakan tuturan adat tersebut.
Materi yang disampaikan anak-anak berisi ajakan kepada masyarakat untuk menjaga dan memelihara budaya sebagai penuntun kehidupan sehari-hari serta mengajak masyarakat dan pemerintah terus mendukung festival budaya.
Penampilan anak-anak tersebut menjadi simbol regenerasi budaya Helong di Kolhua.

BERAGAM ETNIS TAMPIL DALAM SATU PANGGUNG
Panggung Festival Budaya Kolhua menampilkan beragam seni tradisional dan kreasi budaya.
Dari masyarakat Helong tampil Tari Labeka, Tari Sisit Le Muti, Tari Gong Penyambutan Tamu, Natoni/Basan, dan berbagai pertunjukan lainnya.
Dari etnis Amarasi ditampilkan Tari Kosu, sementara etnis Bali menghadirkan Tari Panyembrama melalui anak-anak Sanggar Agung Giri Budaya dari Pura BTN Kolhua.
Tampil pula Tari Bosan Hala dari etnis Lamaholot, Tari Kapitan Pulo dari Flores Timur, Tari Taramiti Tominukue dari Alor, serta tarian campuran Gawi Deolima/Weta Lambu Mera Meko dari Sabu Raijua dan Malaka.
Keberagaman tersebut menjadikan panggung Kolhua sebagai ruang perjumpaan berbagai identitas budaya.
PENYEMBRAMA BALI BAWA PESAN KERAMAHAN
Tari Panyembrama yang dibawakan anak-anak Sanggar Agung Giri Budaya menjadi salah satu pertunjukan yang memperlihatkan kuatnya pesan keramahan dalam budaya Bali.
Panyembrama berasal dari kata sambrama, yang berarti sambutan atau penghormatan. Tarian tersebut merupakan ungkapan rasa syukur, ucapan selamat datang dan keramahan kepada tamu.
Gerakan yang lemah gemulai menggambarkan kesopanan dan ketulusan, sedangkan taburan bunga menjadi simbol kedamaian, rasa hormat dan kegembiraan kepada orang yang dihormati.
Kehadiran Panyembrama di panggung Kolhua sekaligus memperlihatkan bahwa kebudayaan Bali dapat hidup berdampingan dan berdialog dengan budaya Helong dan etnis lainnya.

‘SISIT LE MUTI’ ANGKAT KERAMAHAN MASYARAKAT HELONG
Sanggar Latasga Helong Kupang menampilkan Tari Sisit Le Muti, karya yang diangkat dari kebiasaan masyarakat Timor Helong dalam menyambut tamu.
Tari tersebut menggambarkan karakter masyarakat Helong yang ramah dan mencintai kerukunan serta kebersamaan.
Penata Tari Sisit Le Muti adalah Iis P. Koerniawan, sementara musik ditata Izhu Nisnoni. Karya tersebut memadukan gerak tradisi dengan gerak modern untuk memperkuat aspek artistik pertunjukan.
MUSIK TRADISI DIKEMAS DENGAN SENTUHAN BARU
Sanggar Latasga juga menghadirkan karya “Etnikmusikal Tradisional”, sebuah garapan musik baru yang memadukan berbagai karakter musik tradisional NTT.
Konsep karya tersebut bertolak dari kekayaan alat musik tradisional NTT seperti tambur, gong dan sasando.
Dalam penjelasan konsep garapan, karya tersebut diarahkan untuk menjaga musik tradisional agar tidak tergerus kemajuan zaman.
Perpaduan berbagai irama tradisional dengan unsur modern menjadi upaya untuk menghadirkan identitas etnis sekaligus memberikan ruang inovasi dalam musik tradisi.

SENI NEBJADI MEDIA PENDIDIKAN KEBANGSAAN
Festival juga menghadirkan Dramatisasi Puisi “Cinta Merah Putih” dari RW 06 Kolhua.
Pertunjukan tersebut mengangkat rasa cinta kepada NKRI dan Bendera Merah Putih serta mengajak generasi muda menjaga Indonesia dengan mengingat semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Selain itu, Paduan Suara Oassis Choir dari OMK Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi BTN Kolhua membawakan untaian kidung “Mengejar Matahari” dan “Ninanоi” yang mengangkat tema cinta kepada Tuhan serta perjuangan anak-anak Timor menjalani pendidikan di tengah berbagai kesulitan hidup.
PIETER KEMBO: FESTIVAL KOLHUA LAYAK JADI AGENDA TETAP
Seniman teater dan film sekaligus penerima Anugerah Kebudayaan Provinsi NTT bidang Pencipta, Pelopor dan Pembaharu, Pieter Kembo, menilai Festival Budaya Kolhua memiliki kualitas yang layak untuk dikembangkan menjadi agenda tetap pelestarian budaya.
Dalam pandangannya, kekuatan festival terletak pada keberhasilannya menghadirkan beragam seni tradisi Nusantara dalam satu ruang pertunjukan.
Pieter melihat Festival Budaya Kolhua sebagai gambaran “Indonesia mini”, karena berbagai etnis dan ekspresi budaya dapat tampil bersama dalam suasana kebersamaan dan toleransi.
Menurut Pieter, festival semacam itu penting karena kebudayaan tidak cukup hanya disimpan sebagai warisan masa lalu.
Budaya harus terus dipentaskan, dikenalkan kepada generasi muda, dikembangkan oleh para seniman, dan diberi ruang untuk hidup di tengah perubahan zaman.
Pandangan tersebut sejalan dengan karakter Festival Kolhua yang melibatkan anak-anak sekolah, kelompok pemuda, sanggar seni, mahasiswa, komunitas keagamaan dan masyarakat berbagai RW.
BUDAYA DAN TOLERANSI BERJALAN BERSAMA
Festival Budaya Kolhua juga memiliki dimensi sosial yang kuat.
Sebelum Karnaval dilakukan dahulu doa oleh Pdt.Elisabet P. Pello, S.Th, kemudian saat malam pementasan dimulai, dilakukan doa bersama yang melibatkan tokoh agama Katolik, RD. Dus Bone, Protestan, Pdt. Stefanus Anderias Pandie,S.Th, dan tokoh agama Hindu, Pandita Jro gede Supardi.
Doa oleh para tokoh agama tersebut tidak hanya ditujukan untuk kelancaran festival, tetapi juga untuk keselamatan masyarakat Flores yang sedang menghadapi bencana gempa bumi.
Momen tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas lintas agama.
Di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda, seni dan budaya justru menjadi titik temu.

FESTIVAL KOLHUA JADI CERMIN KEBERAGAMAN NUSANTARA
Festival Budaya Kolhua 2026 pada akhirnya tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat di tingkat kelurahan dapat mengorganisasi sebuah ruang budaya yang mempertemukan identitas lokal dan keberagaman Nusantara.
Kain tenun, Natoni, gong, tari tradisional, musik etnik, kidung, puisi, hingga seni bela diri hadir dalam satu rangkaian kegiatan.
Masing-masing membawa identitas dan nilai yang berbeda, tetapi seluruhnya bertemu dalam satu semangat: merawat kebudayaan dan memperkuat persatuan.

Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, komunitas seni, lembaga pendidikan, tokoh adat dan kelompok keagamaan, Festival Budaya Kolhua berpotensi berkembang lebih jauh sebagai agenda budaya masyarakat Kota Kupang.
Festival tersebut juga memperkuat pesan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama masyarakat.
Sebagaimana tergambar dalam rangkaian kegiatan Festival Kolhua, keberagaman tidak harus menjadi jarak. Jika dirawat dengan toleransi dan kebersamaan, keberagaman justru dapat menjadi kekuatan budaya dan modal sosial untuk membangun Kota Kupang.
Festival Kolhua sukses digelar. Namun, pekerjaan kebudayaan sesungguhnya baru dimulai: memastikan nilai-nilai yang dipentaskan di atas panggung tetap hidup dalam kehidupan masyarakat setelah panggung dibongkar. (Fransiskus/WNN)

