Bensin Sulit Dicari, Penghasilan Makin Terhimpit: Keluhan Pengemudi Ojol Melkianus Missa di Kupang
Penulis: Charlise, She, dan Serlin
WARTANET.NKRI
KUPANG, WARTANET.NKRI — Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada kendaraan. Bagi pengemudi ojek online (ojol), bensin bukan sekadar kebutuhan untuk menjalankan mesin, melainkan modal utama untuk mencari nafkah. Ketika bahan bakar sulit diperoleh dan harga eceran semakin membebani, penghasilan yang diharapkan justru terancam semakin menipis.
Kondisi tersebut dikeluhkan Melkianus Missa, seorang pengemudi ojol yang menjadikan pekerjaan itu sebagai sumber pendapatan utama. Kesulitan mendapatkan bensin membuat aktivitasnya mencari penghasilan menjadi lebih berat, terlebih ketika harga bahan bakar yang harus dibayar tidak sebanding dengan tarif layanan yang diterima melalui aplikasi.
Bagi Melkianus, persoalan ini bukan hanya tentang mengisi tangki kendaraan. Ada pekerjaan yang harus tetap berjalan, pesanan yang perlu dilayani, serta kebutuhan sehari-hari yang bergantung pada pendapatan dari jalanan.
Waktu untuk Mencari Bensin, Kesempatan Kerja Berkurang
Bagi pengemudi ojol, waktu merupakan bagian penting dari pekerjaan. Semakin banyak pesanan yang dapat diselesaikan, semakin besar pula peluang memperoleh pendapatan. Namun, ketika bensin sulit ditemukan, waktu produktif dapat tersita untuk mencari bahan bakar.
Situasi tersebut menempatkan pengemudi pada pilihan yang tidak mudah. Mereka perlu mendapatkan bensin agar kendaraan tetap bisa digunakan, tetapi di saat yang sama harus menjaga agar waktu kerja tidak terbuang terlalu banyak.
Ketika antrean di SPBU panjang atau persediaan bahan bakar sulit ditemukan, pengemudi harus menghadapi ketidakpastian. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk menerima pesanan justru berpotensi habis untuk memastikan kendaraan tetap bisa beroperasi.
Bagi pekerja dengan pendapatan yang bergantung pada aktivitas harian, kehilangan waktu kerja bukan persoalan sepele. Setiap kesempatan mengambil pesanan memiliki arti, terutama ketika pekerjaan tersebut menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Harga Bensin Eceran Menambah Beban Operasional
Persoalan semakin berat ketika pengemudi harus mempertimbangkan membeli bensin eceran dengan harga lebih tinggi daripada harga resmi di SPBU. Dalam keadaan bahan bakar sulit diperoleh, pilihan tersebut dapat menjadi alternatif agar kendaraan tetap bisa digunakan.
Namun, kemudahan mendapatkan bensin eceran bisa datang dengan konsekuensi berupa pengeluaran yang lebih besar. Uang yang seharusnya menjadi bagian dari pendapatan akhirnya harus kembali digunakan untuk membeli bahan bakar.
Bagi Melkianus, yang mengandalkan pekerjaan ojol sebagai sumber penghasilan utama, biaya tambahan seperti ini menjadi beban yang tidak bisa diabaikan. Sebab, pendapatan dari pekerjaan tersebut tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai keuntungan bersih.
Penghasilan yang diterima masih harus diperhitungkan dengan biaya bensin dan kebutuhan operasional kendaraan lainnya. Ketika harga bahan bakar yang dibeli meningkat, jumlah uang yang tersisa untuk kebutuhan sehari-hari pun dapat semakin berkurang.
Dengan kata lain, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk tetap bekerja, semakin berat pula upaya mempertahankan penghasilan.
Tarif Aplikasi Tak Seimbang dengan Biaya di Lapangan
Di tengah kesulitan mendapatkan bensin, Melkianus juga mengeluhkan ketidaksesuaian antara harga bahan bakar dan tarif yang diterima melalui aplikasi.
Tarif layanan menjadi salah satu dasar penghasilan pengemudi ojol. Namun, biaya operasional yang ditanggung di lapangan dapat berubah ketika bensin sulit diperoleh dan pengemudi harus membeli dengan harga lebih mahal.
Persoalan muncul ketika pengeluaran bertambah, sedangkan tarif yang diterima tidak sebanding dengan kenaikan biaya tersebut. Pengemudi tetap harus menyelesaikan pesanan dan menjaga kualitas layanan, tetapi keuntungan bersih yang diperoleh berpotensi semakin kecil.
Keadaan ini menggambarkan tantangan yang dihadapi pekerja transportasi berbasis aplikasi. Mereka harus memperhitungkan bukan hanya jumlah pesanan, melainkan juga biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap perjalanan.
Di balik satu pesanan yang berhasil diselesaikan, ada bensin yang terpakai, waktu yang dicurahkan, serta biaya kendaraan yang harus ditanggung. Karena itu, besarnya pendapatan yang terlihat pada aplikasi tidak selalu mencerminkan jumlah uang yang benar-benar tersisa setelah seluruh pengeluaran diperhitungkan.
Persoalan BBM Bukan Sekadar Antrean di SPBU
Keluhan Melkianus memperlihatkan bahwa persoalan ketersediaan BBM memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar antrean kendaraan di SPBU. Bagi sebagian warga, bahan bakar berkaitan langsung dengan kemampuan mereka untuk bekerja dan mempertahankan pendapatan.
Di Kota Kupang, antrean BBM di sejumlah SPBU juga menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kelancaran pasokan dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi warga yang menggunakan kendaraan setiap hari.
Dalam konteks ini, pengemudi ojol termasuk kelompok yang merasakan pentingnya ketersediaan bahan bakar secara langsung. Kendaraan merupakan sarana utama untuk menjalankan pekerjaan, sementara bensin menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi agar aktivitas tersebut dapat terus berlangsung.
Apabila pengemudi kesulitan memperoleh BBM dengan harga yang terjangkau, dampaknya dapat merembet pada waktu kerja, biaya operasional, dan pendapatan bersih. Karena itu, kepastian ketersediaan bahan bakar menjadi hal penting bagi masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.
Harapan agar Ketersediaan BBM Kembali Normal
Situasi yang dikeluhkan Melkianus menjadi pengingat bahwa di balik antrean kendaraan dan persoalan harga bensin, terdapat warga yang berusaha mempertahankan penghasilannya setiap hari.
Bagi pengemudi ojol, ketersediaan BBM yang lebih terjamin dapat membantu mereka menjalankan pekerjaan tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari bahan bakar. Biaya operasional yang lebih terkendali juga penting agar pendapatan yang diperoleh dari setiap pesanan tidak semakin tergerus.
Persoalan ini membutuhkan perhatian terhadap kelancaran pasokan BBM sekaligus dampaknya bagi pekerja harian. Kepastian informasi mengenai ketersediaan bahan bakar juga diperlukan agar masyarakat dapat merencanakan aktivitas dan pengeluaran dengan lebih baik.
Pada akhirnya, perjuangan pengemudi ojol bukan hanya tentang mengantar penumpang atau menyelesaikan pesanan. Ada biaya yang harus dihitung, waktu yang harus dijaga, dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Bagi Melkianus Missa, sulitnya mendapatkan bensin menjadi tantangan tambahan dalam pekerjaan yang selama ini diandalkan sebagai sumber pendapatan utama. Ketika biaya bahan bakar semakin membebani dan tarif aplikasi tidak sebanding dengan pengeluaran di lapangan, mencari nafkah pun menjadi perjuangan yang semakin berat.

