Antrean BBM Mengular di Enam SPBU Kupang, Pertalite Eceran Tembus Rp13 Ribu

KUPANG, WARTANET.NKRI — Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah SPBU dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat, bahkan antrean dilaporkan memanjang hingga ke tepi jalan dan berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas.

Berdasarkan pantauan lapangan wartawan WARTANET.NKRI di enam lokasi, yakni SPBU Pertamina TDM, Oesapa, Sikumana, Naikoten I, Oeba, dan Pertamina Pulau Indah, antrean kendaraan terlihat menjadi persoalan yang dikeluhkan masyarakat di tengah sulitnya memperoleh BBM.

Kondisi ini membuat warga harus mengantre untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan aktivitas sehari-hari. Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada kendaraan, seperti pengemudi ojek, sopir angkutan, pedagang, dan pekerja lapangan, waktu yang terbuang untuk mengantre dapat menambah beban aktivitas mereka.

Antrean Sampai ke Tepi Jalan

Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan kendaraan mengantre untuk mendapatkan BBM. Panjang antrean di beberapa titik mencapai area pinggir jalan sehingga perlu menjadi perhatian, terutama untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan.

Enam lokasi yang dipantau meliputi SPBU Pertamina TDM, Oesapa, Sikumana, Naikoten I, Oeba, dan Pulau Indah. Temuan lapangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan antrean BBM tidak hanya menjadi perhatian di satu titik, tetapi juga ditemukan di beberapa kawasan Kota Kupang.

Meski demikian, kondisi stok setiap jenis BBM di masing-masing SPBU perlu dikonfirmasi secara langsung kepada pengelola. Antrean panjang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh SPBU mengalami kekosongan stok pada waktu yang sama.

BBM Eceran Jadi Pilihan, Harga Pertalite Capai Rp13 Ribu

Di tengah kesulitan mendapatkan BBM di SPBU, penjualan eceran menjadi salah satu pilihan bagi pengendara yang membutuhkan bahan bakar dengan cepat.

Berdasarkan informasi lapangan yang dihimpun, harga BBM di tingkat pengecer dilaporkan mencapai Rp18.000 per liter untuk Pertamax dan Rp13.000 per liter untuk Pertalite.

Harga tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat menambah pengeluaran masyarakat, terutama warga yang setiap hari menggunakan kendaraan untuk bekerja atau mencari nafkah.

Perbedaan harga antara BBM resmi di SPBU dan harga di tingkat pengecer juga menjadi persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan apakah harga tersebut berlaku secara luas, bagaimana pola penjualannya, serta apakah BBM yang dijual berasal dari jalur distribusi yang sesuai ketentuan.

Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai ketersediaan BBM, jadwal distribusi, dan langkah penanganan apabila terjadi kekosongan stok di SPBU.

DPRD NTT Ikut Menyoroti Kelangkaan Pertalite

Persoalan kelangkaan Pertalite di Kota Kupang turut mendapat perhatian anggota DPRD NTT, Winston Rondo. Dalam pemberitaan NTT Hari Ini pada 11 Oktober 2026, ia menyoroti antrean panjang di sejumlah SPBU dan meminta Pertamina membuka informasi mengenai pasokan serta langkah pemulihan ketersediaan BBM.

Winston juga menilai persoalan tersebut dapat berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat yang bergantung pada BBM, termasuk pengemudi ojek, petani, nelayan, dan pedagang kecil.

Ia meminta agar kecukupan alokasi Pertalite untuk NTT dievaluasi berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Namun, dugaan mengenai penyebab kelangkaan tetap memerlukan penjelasan dan data resmi dari pihak yang berwenang.

Pertamina Perlu Menjelaskan Kondisi Pasokan

Sebelumnya, Pertamina menyampaikan bahwa antrean BBM juga terjadi di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Dalam pemberitaan ANTARA pada 9 Oktober 2026, Pertamina menjelaskan bahwa antrean di tiga SPBU setempat dipengaruhi tingginya konsumsi Pertalite, pembelian secara bersamaan pada jam-jam tertentu, dan peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Pertamina menyebut koordinasi dengan terminal BBM dan pengelola SPBU ditingkatkan untuk mempercepat suplai serta menjaga kelancaran distribusi. Perusahaan juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap pembelian berulang yang terindikasi sebagai pelangsiran.

Penjelasan tersebut berkaitan dengan kondisi di Kefamenanu. Sementara itu, penyebab antrean yang ditemukan di enam SPBU Kota Kupang masih perlu dikonfirmasi secara khusus agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat.

WARTANET.NKRI perlu meminta penjelasan Pertamina Patra Niaga mengenai kondisi stok Pertalite dan Pertamax di Kota Kupang, jadwal pengiriman ke SPBU, serta langkah konkret untuk mengatasi antrean yang memanjang hingga ke tepi jalan.

Warga Membutuhkan Kepastian

Bagi masyarakat, persoalan utama bukan sekadar panjangnya antrean, tetapi kepastian bahwa BBM tersedia ketika dibutuhkan dan dapat dibeli dengan harga sesuai ketentuan.

Jika antrean terus berulang, dampaknya dapat meluas pada waktu kerja, biaya transportasi, pendapatan harian, hingga kelancaran aktivitas ekonomi di Kota Kupang.

Karena itu, informasi terbuka mengenai stok dan distribusi BBM menjadi penting. Koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, pengelola SPBU, dan aparat pengawas juga diperlukan agar penyaluran BBM berjalan tertib dan masyarakat tidak terbebani oleh praktik penjualan yang merugikan.

Hingga penyebab antrean di enam lokasi tersebut dipastikan, masyarakat diharapkan membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang berpotensi memperpanjang antrean.

WARTANET.NKRI akan terus memantau perkembangan antrean BBM di Kota Kupang serta menelusuri penjelasan resmi mengenai pasokan dan distribusinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *