PEMKAB MANGGARAI BARAT MEMELIHARA LOCE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Manggarai Barat — Loce, tikar anyaman tradisional khas Manggarai, bukan sekadar benda pakai sehari-hari. Di tangan masyarakat Manggarai Barat, Loce adalah simbol kebersamaan, identitas budaya, dan sumber nilai ekonomi yang dapat menopang kehidupan warga. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat terus  berjuang mengambil langkah serius untuk memelihara, melestarikan, dan mengembangkan Loce agar tetap hidup di tengah masyarakat sekaligus memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan orang Manggarai Barat.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenia pada kantor Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat, Fransisius Selmans, yang diwawancarai media ini di kantornya beberapa hari lalu

 Dia menegskan bahwa Loce harus dipandang sebagai warisan budaya hidup, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu. Menurutnya, jika pemerintah selalu hadir dengan kebijakan yang tepat, Loce dapat menjadi kekuatan budaya sekaligus kekuatan ekonomi masyarakat.

“Loce itu bukan hanya tikar. Di dalamnya ada nilai gotong royong, ada penghormatan kepada tamu, ada persatuan, dan ada hubungan manusia dengan alam. Karna itu pemerintah tentunya akan terus memelihara Loce, bukan hanya menjaga bendanya, tetapi juga pengetahuan, pengrajin, bahan baku, dan ruang hidup budayanya,” ujar Fransiskus Selmans.

SEBAGAI IDENTITAS
Dalam kehidupan masyarakat Manggarai Barat, Loce memiliki tempat yang istimewa. Tikar ini digunakan dalam berbagai kegiatan adat, musyawarah, penyambutan tamu, hingga perlengkapan rumah tangga. Di atas Loce, orang duduk bersama tanpa membedakan status sosial. Dari sana lahir makna persaudaraan, kesetaraan, dan kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Manggarai.
Karena itu, pelestarian Loce tidak boleh berhenti pada seremoni budaya. Pemerintah daerah tentu perlu menjadikannya bagian dari kebijakan pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan. Loce harus hadir di sekolah, di sanggar budaya, di festival daerah, di ruang-ruang pariwisata, dan di pasar ekonomi kreatif.
LANGKAH NYATA
Menurut Frans, ada beberapa langkah penting yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk memelihara dan mengembangkan Loce.
Pertama, pemerintah tentu perlu melakukan pendataan dan dokumentasi menyeluruh terhadap para pengrajin Loce, teknik pembuatan, motif, bahan baku, serta sebaran tradisinya di desa-desa. Dokumentasi ini penting agar pengetahuan tentang Loce tidak hilang dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kedua, pemerintah tentu harus terus  mendorong regenerasi pengrajin melalui pelatihan bagi anak muda, khususnya perempuan dan remaja desa. Dengan begitu, keterampilan menganyam tidak terputus dan tetap hidup di tengah perubahan zaman. Pelatihan ini dapat dilakukan melalui sekolah, sanggar budaya, kelompok PKK, dan komunitas adat.
Ketiga, perlu ada dukungan terhadap ketersediaan bahan baku, terutama daun pandan. Pemerintah daerah dapat menggerakkan program penanaman kembali pandan di wilayah-wilayah yang potensial agar bahan baku Loce tetap tersedia secara berkelanjutan. Langkah ini juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Keempat, Loce harus dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif. Pemerintah dapat membantu pengrajin dalam desain, kualitas, kemasan, dan pemasaran agar Loce tidak hanya dipakai dalam acara adat, tetapi juga diminati sebagai produk budaya bernilai jual. Dengan demikian, pengrajin memperoleh penghasilan yang lebih baik dan kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.
Kelima, Loce perlu terus dipromosikan melalui sektor pariwisata. Manggarai Barat dikenal sebagai daerah tujuan wisata unggulan. Karena itu, Loce dapat diperkenalkan kepada wisatawan sebagai bagian dari pengalaman budaya lokal. Festival budaya, pameran kerajinan, homestay berbasis budaya, dan paket wisata desa dapat menjadi ruang promosi yang efektif.
PELESTARIAN HARUS MENYENTUH
Frans menilai bahwa pelestarian budaya akan berhasil jika memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, katanya, tentu berupaya untuk  memastikan bahwa pelestarian Loce tidak hanya menjadi proyek budaya, tetapi juga menjadi jalan untuk memperkuat ekonomi keluarga, martabat perempuan pengrajin, dan kebanggaan generasi muda.
“Kalau Loce hidup di rumah-rumah, di sekolah, di acara adat, dan di pasar wisata, maka budaya itu tidak mati. Justru dari sana masyarakat mendapat manfaat. Budaya yang hidup adalah budaya yang memberi kehidupan,” tegasnya.
Pandangan ini penting karena banyak tradisi lokal yang mulai terpinggirkan akibat masuknya produk modern dan perubahan gaya hidup. Tikar sintetis yang lebih murah dan praktis memang semakin banyak digunakan, tetapi tidak memiliki nilai sejarah dan filosofi seperti Loce. Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat penting: menjaga agar modernisasi tidak memutus akar budaya masyarakat.
KEBIJAKAN DAN KOLABORASI
Untuk mewujudkan pelestarian Loce secara berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat perlu membangun kolaborasi dengan tokoh adat, pengrajin, sekolah, komunitas budaya, pelaku pariwisata, dan pemerintah provinsi. Kolaborasi ini dapat menghasilkan program yang lebih kuat, mulai dari perlindungan hak budaya, penguatan kelompok pengrajin, hingga pengembangan pasar.
Selain itu, Loce juga dapat dimasukkan dalam muatan lokal pendidikan agar anak-anak Manggarai Barat mengenal dan mencintai warisan budayanya sejak dini. Dengan pendidikan budaya yang baik, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pewaris dan pelaku kebudayaan.
CERMIN JATI DIRI
Loce adalah cermin jati diri masyarakat Manggarai Barat. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter sosial, memperkuat persaudaraan, dan membuka peluang ekonomi. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat perlu memelihara, melestarikan, dan mengembangkan Loce secara sungguh-sungguh agar warisan ini tetap hidup dan memberi manfaat bagi kehidupan serta kesejahteraan orang Manggarai Barat.
Seperti ditegaskan Frans, budaya tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Budaya harus menjadi kekuatan yang menghidupi masyarakatnya. Jika Loce dijaga dengan baik, maka yang lestari bukan hanya sebuah tikar anyaman, melainkan juga martabat, identitas, dan masa depan orang Manggarai Barat. (Fendi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *