Tim Kajian Budaya Teliti Anyaman Tikar “Loce” di Manggarai Barat, Diusulkan Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia
WARTANET NKRI – Tim Kajian Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan penelitian terhadap anyaman tikar tradisional Loce, warisan budaya masyarakat Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan tersebut berlangsung pada 20–24 Juli 2026 di Kampung Rekas, Desa Kempo, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat. Tim Pengkajian terdiri dari 4 orang, yaitu, Paulina Samosir sebagai Ketua Tim, Deddy Dhosa, sebagai Peneliti, Kurnia Intan, sebagai Staf Dinas dari Bidang Kebudayaan, dan Petrus K, sebagai pendokumentasian.
Ketua Tim Kajian Budaya, Paulina Samosir, yang juga Pamong Budaya pada Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, mengatakan penelitian tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses pengusulan Loce menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
“Kami melakukan kajian terhadap anyaman tikar tradisional yang disebut Loce ini untuk didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Karena itu kami datang bersama seorang tenaga ahli dari kalangan akademisi Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang sebagai peneliti, serta tim dokumentasi video dan fotografi,” ujar Paulina saat diwawancarai di lokasi penelitian, Selasa (22/7/2026).

Menurut Paulina, Anyaman Tikar Loce merupakan salah satu unsur pemajuan kebudayaan yang masuk dalam kategori pengetahuan tradisional dan kemahiran kerajinan tradisional. Warisan budaya tersebut dinilai memiliki nilai budaya dan filosofi kehidupan yang luhur sehingga perlu didokumentasikan secara komprehensif melalui buku, foto, dan video agar tetap lestari.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tokoh adat, tokoh masyarakat, para pengrajin, hingga Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, dapat mendukung proses pendataan tersebut.

“Kami sangat mengharapkan dukungan para tokoh adat, tokoh masyarakat, para pengrajin, dan pemerintah daerah untuk memberikan data lisan, data tertulis, dokumentasi foto maupun video, serta berbagai masukan sehingga seluruh nilai budaya yang terkandung dalam Loce dapat terekam secara utuh dan benar,” ucapnya.
Peneliti Deddy Dhosa : Penjelasan Nara Sumber Memuaskan
Diwawancarai di lokasi penelitian, peneliti dari Universitas Widya Mandira Kupang, Deddy Dhosa, mengaku sangat puas dengan hasil wawancara yang didapatkan dari para nara sumber. Ia berharap apa yang telah diwaruskan oleh para leluhur orang Manggarai Barat, khususnya di desa Kempo tetap dijaga kelestarian agar tidak ternoda perjalanan oleh zaman.
Dia menjelaskan ada puluhan pertanyaan yang diberikan kepada para naras umber dan mereka dapat menjelaskan dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan yang di lakukan antara lain, apa yang dimaksud dengan Tikar Loce?, Sejak kapan tradisi pembuatan Tikar Loce ada di Manggarai Barat?, Mengapa Tikar Loce penting bagi masyarakat Manggarai Barat? , Apa makna budaya dan filosofi yang terkandung dalam Tikar Loce?.

Jelas Deddy, ada pula pertanyaan yang mendasar , tentang sejarah dan tradisi, bahan baku dan proses pembuatan, tentang motif dan makna serta tentang pewarisan pada generasi muda dan tentang nilai ekonomi yang didapatkan.
“ Semua nara sumber dapat menjawabnya dengan baik, sehingga menurut saya, warisan budaya tikar Loce ini memiliki nilai dan makna serta filosofi yang luhur. Oleh karena itu saya berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, sudah layak mengajukan Kerajinan Anyaman Tikar Loce ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia”, Ungkap Deddy.
Pemerintah Daerah Berkomitmen Mendukung Pelestarian
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Selmans, S.S., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penelitian tersebut.
Menurutnya, seluruh data yang dibutuhkan tim pengkaji akan difasilitasi sesuai kebutuhan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua Tim beserta seluruh anggota yang telah datang melakukan kajian ini. Warisan budaya masyarakat Manggarai Barat harus tetap hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Kajian ini sangat membantu kami dalam menjaga, memelihara, dan melestarikan nilai-nilai luhur warisan leluhur di tengah tantangan kehidupan modern,” ujarnya.

Fransiskus menjelaskan, Bidang Kebudayaan saat ini memprioritaskan penguatan identitas budaya daerah, pelestarian adat istiadat, serta peningkatan kolaborasi dalam pemajuan seni tradisional sebagai bagian dari pengembangan ekosistem pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo.
Berbagai program Disparekrafbud Manggarai Barat, lanjutnya, dirancang untuk memperkuat seni budaya lokal sebagai salah satu pilar utama pendukung pariwisata premium.
Ia menambahkan, secara filosofis Loce mengajarkan pentingnya persatuan, gotong royong, kesederhanaan, keharmonisan dengan alam, kerja keras, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.
“Seperti helai-helai daun pandan yang saling mengikat menjadi sebuah tikar yang kuat, masyarakat Manggarai meyakini bahwa kebersamaan merupakan sumber kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.
Fransiskus berharap pemerintah pusat dapat menetapkan Anyaman Tikar Loce sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia karena memiliki nilai budaya dan filosofi yang sangat kuat.
Sarat Nilai Budaya dan Filosofi Kehidupan
Tokoh Adat Desa Kempo, Bernadus Kurson (59), menjelaskan bahwa Anyaman Tikar Loce bukan sekadar alas duduk atau tidur, melainkan simbol kehidupan masyarakat Manggarai yang sarat makna.

Menurutnya, Loce mengandung berbagai nilai luhur, di antaranya:
- Nilai budaya, sebagai identitas masyarakat Manggarai yang diwariskan secara turun-temurun dan digunakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan, musyawarah adat, hingga penyambutan tamu.
- Nilai kebersamaan, karena menjadi tempat masyarakat berkumpul, bermusyawarah, dan mempererat hubungan kekeluargaan.
- Nilai kerja keras dan ketekunan, sebab proses pembuatannya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keterampilan tinggi.
- Nilai kearifan lokal, melalui pemanfaatan daun pandan sebagai bahan baku yang diambil secara bijaksana dari alam.
- Nilai estetika, yang tercermin dari keindahan motif dan pola anyaman serta makna simbolis yang dikandungnya.
- Nilai ekonomi, karena menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat, terutama kaum perempuan pengrajin.
- Nilai pendidikan, sebab keterampilan menganyam diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Dikerjakan Secara Tradisional
Instruktur Anyaman Tikar Loce Desa Kempo, Yuliana Falkonari Juni Gangkoryati (48), mengatakan dirinya bersama kelompok ibu-ibu dan remaja yang tergabung dalam UMKM Rekas Gereja Tua terus memproduksi Loce sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus sumber pendapatan keluarga.
“Seluruh kegiatan adat di Desa Kempo maupun desa-desa lain di Kecamatan Mbeliling selalu menggunakan Loce. Karena itu kami terus menganyam tikar sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Yuliana menjelaskan, proses pembuatan Loce masih dilakukan secara tradisional. Tahapannya meliputi pemilihan daun pandan yang telah tua, pembersihan, perebusan, penjemuran, penghalusan, pembelahan daun, pewarnaan bila diperlukan, proses menganyam, hingga tahap perapian dan penyelesaian.
Pada tahap akhir, tepi tikar dirapikan dengan cara dilipat, dijahit, atau diikat agar anyaman tidak mudah terurai sebelum dipasarkan atau digunakan.
“Semua alat yang kami gunakan masih merupakan alat-alat tradisional yang berasal dari alam,” katanya.
Regenerasi Menjadi Tantangan
Sementara itu, Kepala Desa Kempo, Hermanus Harmin Anggung (40), mengatakan sebagian besar perempuan di desanya masih aktif menganyam Loce sebagai usaha menambah pendapatan keluarga.
Namun demikian, ia mengakui minat generasi muda terhadap kerajinan tersebut mulai menurun akibat perkembangan zaman.

Karena itu, pemerintah desa bersama tokoh adat dan tokoh masyarakat terus mendorong keterlibatan kaum muda agar ikut bergabung dalam kelompok-kelompok pengrajin.
“Kami bersama seluruh elemen masyarakat terus berkoordinasi untuk menjaga warisan budaya Desa Kempo agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman,” ujarnya.
Hermanus menegaskan pemerintah desa berkomitmen menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Anyaman Tikar Loce kepada generasi mendatang. (Pieter)

