Mencari Setetes Air di Tengah Kemarau: Ketika Warga Kupang Harus Menunggu hingga Malam
KUPANG, WARTANET.NKRI — Matahari mungkin telah tenggelam di balik langit Kota Kupang, tetapi aktivitas warga belum berakhir. Di sejumlah titik, malam justru menjadi waktu untuk berburu sesuatu yang semakin sulit diperoleh: air bersih.
Di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, antrean kendaraan pengangkut air menjadi pemandangan yang semakin sering terlihat ketika musim kemarau mencapai puncaknya. Truk-truk tangki datang silih berganti, sementara warga menunggu giliran untuk mendapatkan air yang akan digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi sebagian orang, air mungkin hanya perlu membuka keran.
Namun bagi sebagian warga Kupang, mendapatkan air bersih berarti menunggu, mengantre, mencari pemasok, bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan.
Kemarau tahun ini membuat kebutuhan tersebut terasa semakin berat.
Antrean Air hingga Malam Hari
Di Oebufu, permintaan terhadap air bersih meningkat tajam memasuki akhir Agustus 2026.
Sejumlah sopir truk tangki air mengaku harus melayani banyak pesanan dalam sehari. Lebih dari sepuluh permintaan dapat datang secara bergantian, membuat mereka kewalahan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Antrean tidak hanya terjadi pada siang hari. Ketika matahari mulai tenggelam, aktivitas pengisian dan distribusi air masih berlangsung.
Warga datang membawa jeriken, ember, galon, dan berbagai wadah yang bisa digunakan untuk menampung air.
Mereka menunggu bukan karena ingin, melainkan karena kebutuhan.
Bagi keluarga yang harus menghemat penggunaan air, setiap liter memiliki nilai yang penting. Air yang diperoleh harus dibagi untuk berbagai keperluan—memasak, minum, mencuci, membersihkan rumah, hingga kebutuhan ternak.
Di tengah kondisi seperti itu, satu perjalanan truk tangki bukan sekadar aktivitas ekonomi. Bagi warga yang menunggu, kedatangan truk membawa harapan bahwa kebutuhan air mereka hari itu dapat terpenuhi.
Kemarau yang Membuat Air Semakin Berharga
Kota Kupang dan wilayah Nusa Tenggara Timur memang dikenal memiliki karakter iklim yang relatif kering. Namun kemarau 2026 kembali menunjukkan betapa rentannya masyarakat terhadap keterbatasan air ketika hujan tidak kunjung turun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur termasuk daerah yang mengalami puncak kemarau pada periode tersebut.
Pada Dasarian III Agustus 2026, BMKG mencatat fenomena El Niño berada pada intensitas sangat kuat. Pada periode yang sama, sejumlah wilayah NTT juga masuk dalam wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis.
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran mengapa persoalan air menjadi semakin penting untuk diperhatikan.
BMKG juga mencatat bahwa pada Dasarian II Agustus, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau dan NTT termasuk wilayah yang mengalami kondisi kering.
Ketika Air Tidak Lagi Sekadar Kebutuhan
Ungkapan mencari setetes air di tengah musim kemarau bagi sebagian masyarakat Kupang bukan lagi sekadar kalimat puitis.
Ia menjadi gambaran kehidupan sehari-hari.
Ketika sumber air mulai mengering atau pasokan jaringan tidak mampu memenuhi kebutuhan, masyarakat harus mencari alternatif.
Truk tangki menjadi salah satu pilihan.
Namun tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk membeli air secara rutin. Karena itu, kemarau bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Keluarga harus menghitung kembali penggunaan air.
Air untuk mandi harus dihemat. Air untuk mencuci harus digunakan seefisien mungkin. Bahkan kebutuhan air untuk ternak pun harus diperhitungkan dengan cermat.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dipaksa belajar bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata dapat menjadi barang yang sangat berharga.
Tantangan Infrastruktur Air Bersih
Persoalan air di Kota Kupang tidak hanya berkaitan dengan panjangnya musim kemarau.
Keterbatasan infrastruktur dan cakupan pelayanan air bersih juga menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan laporan ini, Perumda Air Minum Kota Kupang melayani sekitar 17.500 pelanggan dengan cakupan pelayanan sekitar 20 persen dari total penduduk.
Jika digabungkan dengan pelayanan dari operator lain, seperti PDAM Kabupaten Kupang dan SPAM Provinsi NTT, cakupan pelayanan air bersih disebut berada di kisaran 30 persen.
Artinya, masih terdapat sebagian besar masyarakat yang belum mendapatkan layanan air melalui jaringan perpipaan secara langsung.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah kawasan harus bergantung pada sumber air alternatif, termasuk distribusi menggunakan truk tangki.
Di sinilah persoalan kemarau bertemu dengan persoalan pelayanan dasar.
Ketika hujan berkurang, tekanan terhadap sumber air meningkat. Ketika jaringan perpipaan belum menjangkau seluruh masyarakat, kebutuhan air harus dipenuhi melalui cara lain.
Bukan Sekadar Persoalan Musim
Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, dalam informasi yang menjadi bahan laporan ini, mengakui masih terdapat sejumlah aspek pelayanan yang perlu dibenahi.
Di antaranya berkaitan dengan manajemen pengaduan pelanggan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana pelayanan.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan air tidak cukup hanya dibicarakan ketika kemarau tiba.
Persiapan menghadapi musim kering harus dilakukan jauh sebelumnya.
Ketersediaan sumber air, kapasitas jaringan distribusi, infrastruktur penampungan, hingga pola pelayanan kepada masyarakat menjadi bagian penting dari upaya menghadapi kemarau.
Sebab ketika hujan berhenti dan sumber air mulai berkurang, pilihan masyarakat menjadi semakin terbatas.
Menunggu Hujan, Menunggu Kepastian
Di tengah malam yang semakin larut, antrean kendaraan pengangkut air perlahan bergerak.
Satu per satu truk mendapat giliran.
Bagi sopir, pekerjaan belum selesai. Masih ada rumah-rumah lain yang menunggu kiriman.
Bagi warga, air yang datang akan segera dipindahkan ke dalam jeriken, ember, drum, atau tempat penampungan lainnya.
Tidak ada yang tahu berapa lama kemarau akan bertahan.
Yang pasti, kebutuhan air tidak pernah berhenti.
Anak-anak tetap membutuhkan air. Keluarga tetap harus memasak. Warga tetap harus mencuci. Ternak tetap harus minum.
Karena itu, di tengah musim kemarau, perjuangan mendapatkan air bukan sekadar tentang menunggu hujan.
Ini tentang bagaimana masyarakat bertahan ketika kebutuhan paling dasar dalam kehidupan menjadi semakin sulit diperoleh.
Di Kota Kupang, setetes air mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi mereka yang sedang menunggu, setetes air berarti kehidupan.
Penulis: Sherlin
WARTANET.NKRI

