Kisah Tragis Marsela Bahas, Siswi Oenesu yang Tak Pernah Pulang

KABUPATEN KUPANG, WARTANET.NKRI — Siang itu, Rabu, 24 Februari 2021, Marsela Bahas berpamitan kepada ibunya. Ia mengatakan hendak pergi ke kebun untuk memindahkan ternak sapi.

Tak ada yang menyangka, kepergian gadis 18 tahun itu akan menjadi perjalanan terakhirnya.

Marsela, siswi SMA asal Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak pernah kembali ke rumah pada hari itu.

Keluarga mulai gelisah ketika sore berganti malam. Pencarian dilakukan bersama warga dan perangkat desa. Namun hingga larut malam, keberadaan Marsela belum juga ditemukan.

Keesokan paginya, sebuah penemuan di tengah semak belukar mengubah kecemasan keluarga menjadi duka mendalam.

Marsela ditemukan telah meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu kasus kriminal yang mengguncang masyarakat Kabupaten Kupang. Polisi mengungkap dugaan kekerasan seksual yang berujung pada kematian korban dan menyeret seorang pria yang disebut memiliki rekam jejak kriminal serupa.

Pertemuan yang Berujung Petaka

Marsela diketahui mengenal Yustinus Tanaem, pria yang biasa dipanggil Tinus atau Tinus Perko, melalui Facebook sejak September 2020.

Menurut informasi dalam perkara tersebut, keduanya telah beberapa kali bertemu. Pertemuan-pertemuan sebelumnya tidak menimbulkan persoalan.

Namun, pertemuan berikutnya berubah menjadi tragedi.

Pada 24 Februari 2021 sekitar pukul 13.00, Marsela meninggalkan rumah. Kepada ibunya, ia menyampaikan bahwa dirinya hendak pergi ke kebun untuk memindahkan sapi.

Belakangan, ayah Marsela membantah pernah menyuruh putrinya pergi ke kebun.

Keluarga pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa.

Di sisi lain, Marsela ternyata telah memiliki janji untuk bertemu dengan Tinus di sekitar lokasi kebun.

Menurut keterangan yang terungkap dalam penanganan perkara, pelaku menggunakan sejumlah bujuk rayu untuk menarik perhatian korban, termasuk menjanjikan sebuah telepon seluler dan pekerjaan dengan penghasilan tinggi.

Pertemuan yang semula dijanjikan sebagai sebuah pertemuan biasa itu kemudian berubah menjadi tragedi.

Teriakan di Tengah Kebun

Lokasi pertemuan berada di kawasan kebun yang tidak jauh dari aktivitas warga.

Saat terjadi dugaan kekerasan seksual, Marsela disebut sempat berteriak. Suara tersebut dikhawatirkan terdengar oleh warga yang berada di sekitar kawasan kebun.

Situasi kemudian berubah menjadi tindakan kekerasan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa.

Dalam proses penyidikan, aparat kepolisian mengungkap bahwa korban mengalami kekerasan sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia.

Peristiwa tersebut menjadi titik paling kelam dalam kehidupan Marsela—seorang remaja yang sebelumnya menjalani keseharian sebagai pelajar dan membantu keluarganya mengurus ternak.

Malam Pencarian

Sekitar pukul 16.00, ayah Marsela pulang ke rumah.

Saat istrinya menyampaikan bahwa Marsela pergi untuk memindahkan ternak atas perintah sang ayah, ia langsung membantah pernah memberikan perintah tersebut.

Kekhawatiran pun berubah menjadi pencarian.

Keluarga mencari Marsela dan meminta bantuan warga sekitar. Hingga sekitar pukul 19.00, Marsela belum juga ditemukan.

Informasi kemudian disampaikan kepada perangkat desa.

Warga bersama perangkat desa melakukan pencarian hingga sekitar pukul 23.00. Mereka menyisir sejumlah lokasi di sekitar kampung, tetapi hasilnya masih nihil.

Karena hari semakin malam, pencarian akhirnya dihentikan sementara dan direncanakan dilanjutkan keesokan harinya.

Tidak ada yang mengetahui bahwa jawaban atas hilangnya Marsela ternyata berada di sebuah kawasan semak belukar.

Pagi yang Mengubah Segalanya

Kamis, 25 Februari 2021.

Sekitar pukul 09.30, setelah hujan reda, dua warga, Yakob Pong dan Niko Okto Takene, menemukan sesosok jenazah di kawasan semak belukar.

Penemuan itu segera menggemparkan warga.

Jenazah tersebut kemudian dikenali sebagai Marsela Bahas.

Kabar itu menjadi pukulan berat bagi keluarga dan masyarakat Oenesu.

Sehari sebelumnya, Marsela masih pergi dari rumah seperti biasa. Namun pagi berikutnya, ia ditemukan telah kehilangan nyawa.

Polisi Mengungkap Jejak Pelaku

Kasus tersebut kemudian ditangani aparat kepolisian.

Dalam proses penyidikan, nama Yustinus Tanaem atau Tinus Perko muncul sebagai pelaku utama dalam perkara tersebut.

Polisi juga mengungkap bahwa Tinus memiliki catatan kriminal terkait kasus kekerasan seksual dan pernah menjalani hukuman penjara di Lapas Kupang.

Dalam pengembangan kasus, pelaku disebut mengakui telah melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah perempuan dalam kurun waktu beberapa bulan.

Dari pengungkapan tersebut, polisi menemukan adanya pola kejahatan yang lebih luas dan tidak berhenti pada satu korban.

Dua korban disebut meninggal dunia setelah melakukan perlawanan, sementara korban lainnya selamat.

Pengungkapan tersebut membuat kasus Marsela tidak lagi sekadar menjadi perkara pembunuhan seorang siswi SMA. Kasus ini membuka gambaran mengenai rangkaian kejahatan yang menimbulkan kekhawatiran besar di tengah masyarakat.

Sebuah Nama yang Tak Seharusnya Dilupakan

Marsela Bahas bukan sekadar nama dalam sebuah berkas perkara.

Ia adalah seorang anak yang masih duduk di bangku SMA, seorang putri yang tinggal bersama keluarganya, dan seorang remaja yang sehari-hari membantu orang tuanya mengurus ternak.

Pada hari terakhirnya, ia pergi dari rumah tanpa mengetahui bahwa dirinya tidak akan pernah kembali.

Kisah Marsela menjadi pengingat pahit bahwa kejahatan dapat terjadi ketika seseorang memanfaatkan kepercayaan, kedekatan, maupun bujuk rayu untuk mendekati korbannya.

Kasus ini juga menyisakan pertanyaan besar mengenai bagaimana seseorang dengan riwayat tindak pidana serupa dapat kembali melakukan kejahatan.

Di tengah duka keluarga yang ditinggalkan, satu hal tetap menjadi bagian penting dari kisah ini: Marsela harus dikenang sebagai seorang anak, pelajar, dan manusia yang kehilangan masa depannya akibat sebuah kejahatan.

Lebih dari lima tahun telah berlalu sejak hari ketika Marsela berpamitan dan meninggalkan rumah.

Namun bagi keluarganya, tanggal itu bukan sekadar catatan dalam kalender.

Itulah hari ketika seorang putri pergi dari rumah—dan tak pernah pulang.

 

Penulis: Charlise
WARTANET.NKRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *